Pages

Friday, February 8, 2013

Dilemma [sneak peek]




“Sebuah cerita cinta masa lalu bisa jadi hal yang sangat membekas dan sangat sulit untuk dilupakan. Cinta yang terkadang masih membuat kita terjebak olehnya. Kenangan pahit akan tersingkir bersamaan dengan kenangan indah yang akan selalu membekas dan berubah menjadi bulir air mata. Dan saat itu adalah saat dimana tidak ada seorang pun yang tau kecuali kamu, tuhan, dan kamarmu yang seketika berubah dingin...”


***

“Giiin... Lo itu ngapain aja sih? Daritadi gue cuap-cuap apa lo ga dengerin sama sekali, haah? Lo pikir gue apa? Radio rusak? Pengantar tidur lo?” Suara cempreng gadis dengan kawat gigi yang berbaring disebelah Gina mengagetkan Gina yang menatap nanar, lurus ke langit-langit kamarnya.

“Lo itu ngagetin gue aja sih, Le. Gabisa liat orang tenang dikit aja” Gina menggerutu sambil beranjak dari kasur king size nyamannya menuju sliding door yang menyambungkan kamar ke balkon yang mengarah ke taman belakang rumahnya. Mata hazel indah milik Gina yang diperoleh dari ayahnya yang memiliki darah Belanda terlihat berbinar menatap bintang yang bertabur menghiasi malam.
“Bukan ngagetin geblek. Lo sendirikan yang minta gue menjelaskan semua kegamangan lo. Kerisauan hati lo. Kegundah-gulanaan lo. Dan segalanya tentang lo dan masa lalu lo itu. Lo nya malah diem kaya mannequin naked gitu” Lexy yang bertubuh kurus yang berwajah sangat Asia ikut beranjak dari kasur nyaman milik Gina dan berjalan mendekat, menyusul Gina yang sudah bersandar di pagar besi balkonnya sambil menengadah menatap bintang-bintang yang bertaburan.
Gina hanya mampu tertawa mendengar omelan Lexy yang terkadang memang begitu berlebihan. Naked mannequin. Gina bener-bener ga habis pikir Lexy temennya yang super duper sassy itu bisa ambil perumpamaan seperti itu buat ngegambarin Gina yang jelas-jelas melamun. Benar-benar tidak masuk akal bagi Gina, tapi itulah Lexy. Sahabatnya sejak SMP yang begitu dia sayangi. Satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya walau terkadang Gina suka bete sendiri ngadepin Lexy yang cerewet ampun-ampunan.
“Jadi...? Kesimpulannya, setelah 2 taun ga berkabar lo masih nungguin si mister almost fine itu?” Lexy melirik Gina yang masih sibuk dengan bintang-bintang di langit yang tampak begitu cantik malam itu, membuat hatinya lagi-lagi berdesir. Entah karna keindahan yang dipancarkan bintang-bintang, atau karna perasaannya sendiri yang sedang tidak menentu.
“Namanya Bara, Le. Bukan Mister almost fine atau yang lainnya” Gina mendelik kearah Lexy yang dengan santainya menatap Gina tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Lexy bukannya menjawab, gadis kurus itu justru berjalan kearah meja rias Gina dan mengambil sebuah foto hasil photo box yang terselip di pinggiran cermin Gina. Foto Gina dengan seorang cowok bermata gelap yang tersembunyi dibalik kacamatanya. Di foto itu Gina tampak tersenyum lebar sambil berpose dalam beberapa gaya. Di pojok kiri atas, Gina tampak tersenyum sambil melirik cowok berkacamata tadi yang juga melirik kearah Gina. Lalu ada foto Gina yang menyandarkan kepalanya di pundak cowok tadi, lalu foto mereka dengan kedua lidah terjulur, saling berangkulan satu sama lain, dan yang paling Lexy suka adalah foto saat Gina mengerucutkan bibirnya kearah kamera sementara cowok disebelahnya itu merangkulkan sebelah tangannya pada Gina dan tangan satunya yang bebas menjawil manis pipi Gina. Serasi.
“Lo liat ini. Ada Davin yang jauuuh lebih hebat dari si Mister almost fine lo itu. Jelas banget kalo Davin sayang sama lo, Gin. Cinta. Dia itu bukan almost fine lagi, tapi udah fine banget dah buat lo” Lexy menyodorkan foto Gina dan Davin (sahabat Gina dari kecil) yang hanya dibalas dengan sebuah lirikan singkat dari Gina.

***

Natagina Anne Shekclerr. Gadis Indo-Belanda yang hidup dengan kemewahan, tapi tetap dalam kesederhanaannya. Hotel milik Shecklerr company yang tersebar nyaris diseluruh tempat wisata dunia tidak membuat Gina senang bepergian ke tempat-tempat seperti New York, London, Dubai, Jepang, atau Paris, bahkan Los Angeles dan Las Vegas sekalipun. Gina lebih senang di negaranya sendiri. Derawan, Bali, Lombok, Sabang, bahkan Wakatobi dan Raja Ampat pernah didatanginya entah dengan keluarganya, atau teman-temannya.
Gina adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya Melissa Anne Shekclerr adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi fashion terkenal di Milan yang sudah malang-melintang di dunia fashion. Pintar? Sudah jelas. Hanya saja Mels –begitu Melissa biasa dipanggil- sangatlah berbeda dengan Gina. Mels tidak akan segan-segan memamerkan kekayaan, kecantikan, juga kepintarannya dihadapan orang lain. Namun orang-orang nyaris tidak pernah sebal ataupun berbicara hal-hal yang buruk tentang Melissa karna mereka beranggapan bahwa adalah hal wajar bagi Melissa untuk menyombongkan diri dengan segala yang dimilikinya, sehingga bagaimanapun Mels seenaknya merubah jadwal pertemuan hanya untuk menghadiri sebuah pesta di belahan dunia lain atau bagaimana Mels meninggalkan runaway hanya karna sebuah panggilan kecil party mendadak dari sahabat-sahabatnya, setiap orang tetap menyukai Melissa. Tetap senang dengan gadis cantik yang chic itu.
Sementara Gina, banyak pria yang mengejar gadis cantik nan rupawan itu dengan atau tanpa embel-embel Shecklerr dibelakangnya. Sosok Gina yang terkesan manis membuat banyak pria berlomba-lomba mendekati Gina. Rambut curly brunette Gina yang kerap dibiarkan terurai akan bergoyang-goyang mengikuti lenggok tubuh semampainya saat berjalan. Mata hazelnya tampak menyatu dengan kulit putihnya. Juga bibir penuhnya yang diolesi lipgloss, selalu terlihat menarik. Kepribadian Gina yang ramah juga membuatnya gampang dekat dengan siapapun disekolahnya. Sekolah biasanya. Sekolah negri yang meninggalkan kenangan begitu mendalam baginya.
Sejak kembali ke Indonesia saat berumur 10 tahun, Gina sudah memutuskan untuk masuk ke sekolah umum di negara asal ibunya itu. Selama di Belanda Gina memang disekolahkan di sekolah khusus. Bukan sekolah anak berkebutuhan khusus, tapi seperti sekolah bertaraf Internasional dengan biaya yang pastinya selangit. Dan sejak mengetahui keputusan ayahnya untuk melebarkan sayap perusahaan Shecklerr ke wilayah Asia khususnya Asia Tenggara, Gina yang tertarik dengan negara asal ibunya itu langsung berandai-andai sampai akhirnya memutuskan untuk bersekolah di sekolah umum (negeri). Awalnya Damien Shecklerr –ayahnya- tidak menyetujui sama sekali dan memilih home schooling untuk Gina. Namun setelah satu tahun ber-home schooling dan Gina masih merengek tentang sekolah negri, Damien akhirnya mengizinkan Gina ke SMP negeri dengan catatan harus tetap menjadi nomer satu yang tentu saja lagsung disanggupi Gina yang akhirnya bertemu Lexy Longo gadis berkebangsaan Indonesia yang mempunyai darah Amerika Latin dari buyutnya. Ya, Buyutnya.

***

Gina uring-uringan sambil menatap notebooknya yang menjadi satu-satunya sumber cahaya dikamarnya yang gelap itu. Entah kenapa Gina tiba-tiba merasa begitu kalut dan sedih. Pikirannya kembali pada masa-masa saat pertama kali dirinya mengenal sosok jutek yang kalau boleh jujur sangat berkharisma. Seniornya sewaktu SMP yang merupakan kapten tim basket kebanggaan sekolahnya. Hampir seluruh siswi disana menaruh rasa pada cowok tersebut. Entah itu kagum, entah itu sekedar suka, atau rasa sebal karna sikap cowok itu yang memang sangat cuek.
            Akbar Aradi –Bara-, cowok kebanggaan SMP Negri 178 itu memang terkenal dan dikenal nyaris seantero sekolah. Mulai dari kepala sekolah, staff administrasi, guru-guru, siwa-siswi SMPN 178, penjaga kantin, satpam, semua pasti mengenal sosok Bara yang supel. Supel? Iya, Supel. Sebenarnya Bara adalah sosok supel yang gampang bergaul dengan siapa saja, jelas terlihat dari bagaimana dia menjaga hubungan baik dengan teman-teman sesama siwa SMPN 178 atau dengan siswa-siswa dari sekolah lain. Hanya saja pembawaan Bara yang pendiam dan cuek membuatnya mendapat julukan senior jutek dari junior-juniornya. Terlebih saat masa orientasi, saat Bara dengan enggannya menerima surat cinta dari hampir setengah siswi yang masuk ke SMPN 178. Bara juga terkenal dengan omongannya yang pedas, yang tidak jarang membuat siapapun yang menjadi lawan bicaranya bergidik mendengarnya. Namun kembali lagi, sosok itu terlalu bersahaja untuk dibenci.



***

“Mas Baraaa...” suara seorang gadis kecil menyadarkan Bara dari lamunannya. Menyadarkan Bara yang entah sejak kapan mulai masuk kedalam memori masa lalu, membiarkan setiap kepingan kenangan dalam otaknya berputar dan membawanya mengingat kenangan tersebut.

            “Alikaaa... Kamu makin cantik aja” Ucap Bara sambil memeluk Alika, keponakannya yang berumur 6 tahun itu erat.
            “Om Baranya capek, likaaa. Kamu mendingan ganti baju dulu deh sama mbak Mia sana. Baru ntar main sama om Bara. Gih, sana” Tami, kakak ipar Bara sekaligus Bunda Alika berujar sambil duduk dihadapan Bara yang masih memeluk Alika erat.
            “Siapa bilang mas Bara capek, orang mas Bara dari tadi nungguin Alika pulang kok. Yakan?” Bara mencium pipi Alika yang tersenyum manis kepada masnya itu.
            “Mas, mas, Om tau. Perasaan masih muda kamu” Tami mendengus mendengar Bara yang tetap ngotot dipanggil mas oleh Alika yang jelas-jelas adalah keponakannya.
            “Alika lebih senang manggil mas, bundaaa. Mas Bara kan emang masih muda” Jawab Alika polos sambil bergelayut manja di lengan Bara. Membuat Bara tertawa senang sambil menatap Tami yang hanya mampu menggeleng.
            “Yaudah sana ganti baju dulu, baunya gaenak ni, Lika” Bara mengendus Alika sambil mengernyitkan wajahnya.
            Alika memukul pelan Bara yang tertawa mendapti ekspresi sebal Alika “Jahat deh Om Bara. Dasar udah tua” Alika mencibir sambil berlalu, meninggalkan Bara yang tertawa menghilangkan kegalauannya untuk sementara waktu.
            “Masih bisa ketawa gitu kamu, Bar?” suara rendah Tami seketika menghentika tawa Bara. Membuat Bara kembali menunduk dan menghea nafas pelan.
Walaupun Tami adalah kakak ipar Bara, tapi Tami cukup banyak mengetahui hal-hal tentang Bara. Banyak hal yang Bara ceritkan pada Tami, entah itu soal kuliahnya atau soal perempuan. Tami juga tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa Bara sedang memikirkan sesuatu, Tami akan bisa segera menangkap kegundahan Bara hanya dari bagaimana cara Bara menatap. Tatapan kosong Bara memang gampang sekali terlihat saat cowok berperawakan dewasa itu dalam masalah.
“Masih mikirin yang kemarin?” Tembak Tami tanpa babibu lagi. Tami cukup gregetan melihat Bara yang masih berpaku pada satu cewek dari masa lalunya yang masih terus dipikirkannya. Entah bagaimana cara berfikir Bara sebenarnya, tapi yang Tami tau Bara terlalu payah hanya untuk sekedar menunjukkan rasanya, terlalu takut untuk menyampaikan hal yang sebenarnya dirasakannya.
“Kalo kamu terus-terus begini, gimana kamu bisa balik lagi deket kaya dulu sama dia, gimana kamu bisa tau keadaan dia, dan kamu yang begini ngarepin kalo dia bakal terus ada buat kamu? Ngarepin dia terus-terusan single? Ngarepin dia bakal nunggu kamu sampe kamu berani ngungkapin atau setidaknya nunjukin rasa kamu ke dia? Iya?” Kata demi kata yang meluncur dari bibir Tami serasa menampar Bara telak di pipinya. Begitu perih dan pastinya akan terus diingatnya. Bara sadar gadis itu tidak akan terus menunggunya, tapi Bara juga cukup tau dirinya terlalu pengecut untuk kembali memulai.
“Aku capek, Mbak. Mau istirahat” Bara tau akan banyak ‘tamparan’ yang akan Tami layangkan padanya, namun Bara juga tau bahwa dia tidak akan siap menerima semua tamparan itu. Tidak akan pernah siap. Menyadari betapa pengecutnya saja dirinya sendiri sudah cukup membuat Bara menderita.
“Kalo jodoh, gimanapun caranya pasti akan ada jalan” Seru Bara sambil berbalik meninggalkan Tami yang masih menatapnya heran.
“Tapi kalo gaada usaha, garis tangan bisa berubah sendiri. Dimana-mana, cewek itu butuh kepastian, Bar. Gaada cewek yang akan selalu nunggu sesuatu yang ga pasti” Jawab Tami yang semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Bara.
“Gue tau, mbak. Gue emang pengecut” Gumam Bara pelan.

***


“Gin...” sebuah suara yang Gina hafal betul menyapanya pelan namun cukup kuat untuk menghentikan langkah teraturnya di tengah keramaian koridor SMAnya.
“Davin” Sahut Gina saat berbalik dan mendapati sosok Davin dengan varsity dan jeans belelnya menatap Gina sendu.
Davin berjalan mendekat kearah Gina denga tatapan sendunya yang membuat Gina heran sekaligus salah tingkah. Bagaimanapun juga, pengakuan Davin tentang rasa yang dimilikinya itu sedikit banyak membuat Gina bingung bagaimana harus menyikapi Davin yang seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Bersikap seolah semuanya berjalan seperti dulu padahal Gina sudah mati-matian berusaha agar tidak terlihat berbeda.
“Kamu udah selesai sidik jari?” Tanya Davin saat mereka hanya berjarak beberapa centimeter.
Gina hanya mampu mengangguk sambil menyingkirkan tatapannya dari wajah Davin yang masih membuatnya terus merasa bersalah karna tidak bisa membalas rasa dari sahabatnya itu. Davin terlalu baik dan Gina terlalu bodoh telah menyia-nyiakan Davin, setidaknya begitu menurut pendapat Lexy, bahkan Nate yang mengetahui cerita tersebut dari Lexy saat mereka nyaris menghabiskan malam yang panjang dengan saling bertukar cerita di apartemen Lexy.
“Jadi kamu bakal langsung ke Amerika?” Tanya Davin lagi saat melihat sebuah anggukan kecil dari Gina yang memberi efek indah pada rambut brunettenya yang bergelombang.
Gina lagi-lagi hanya mampu mengangguk. Kata-kata yang meluncur dari bibir Davin beberapa minggu lalu seperti kembali lagi terputar di otaknya, menyebabkan gaung yang membuat Gina sulit untuk memikirkan hal lain. Membuat Gina dipenuhi oleh suara parau Ega yang untuk pertama kali Gina dengar. Suara parau yang didengarnya dari sahabat yang disayanginya, yang menatapnya sambil berkaca-kaca. Entah menahan haru, entah menahan perih, atau justru mengekspresikan sebuah kelegaan. Gina hanya mampu menerka, tapi Gina juga jelas terluka dan merasa begitu jahat pada Davin yang selalu ada untuknya.
Davin masih menatap Gina saat Gina mencuri pandang mentapnya dengan ekor mata Gina. Davin masih menatapnya dengan tatapan sayang yang sama. Tidak bertambah, tidak juga berkurang sedikitpun. Hanya saja, sebuah asa yang tercabik dapat Gina lihat dengan jelas disana. Dimana sebuah kebahagiaan terhempas, terpecah belah berkeping-keping.
“Kamu sekarang ga ngerasa nyaman ya sama aku?” Tanya Davin yang sedari awal menyadari perubahaan air muka dan sikap Gina.
Gina menggeleng, namun dalam hati mengiyakan.
“Jadi?” Davin terus bertanya ditengah kebisuan dan kecanggungan yang terus diciptakan Gina, berusaha menemukan sebuah jawaban dari kebisuan Gina.
“Vin,...” Ada jeda yang tercipta untuk beberapa waktu “Gue... gue ga mau kita ber’aku’ – ‘kamu’. Kita ga terbiasa kaya gitu, Vin. Itu ngebuat gue...”
Davin tersenyum “Maaf, Gin. Gue emang lan...”
“Lo bukan lancang. Gue tau bukan hal yang mudah ngebiarin rasa lo yang jatuh terlanjur jauh itu ga berbalas, gue tau persis gimana rasanya cinta sendirian, Vin. Sakit. Jadi...”
 “Jadi harusnya lo bisa sedikit buka hati lo buat orang lain, Gin. Harusnya lo selesain cinta sendiri lo itu, sampe kapan lo harus nunggu dia dengan ketidak pastian? Sampe kapan lo mau nahan sakit yang lo ciptain sendiri itu? Sampe kapan, Gin?! Lo bahkan gatau mungkin dia udah nemuin kebahagiannya dari cewek lain. Dan lo masih tetap mau ngebiarin lo sakit untuk sesuatu yang bahkan lo sendiri gabisa nemuin obat dari sakit yang lo rasain itu?” Davin bersuara setengah berbisik, namun Gina yang nyaris seumur hidup mengenal Davin tau, ada emosi terselip di setiap helaan nafasnya, ada marah yang membumbung di setiap kata-kata yang meluncur dari bibirnya, dan ada luka yang ditorehkannya dihatinya sendiri. Membuat Gina semakin tak berdaya.
“Semua bakal indah pada waktunya, kok” Jawab Gina datar. Kalimat Davin memukulnya telak. Tepat di titik terlemahnya.
“Ya, dan waktu akan dengan senang hati beranjak ninggalin lo perlahan. Good luck buat semua, Gin. You’re still the best. Gue tau lo ga sebodoh itu akan ngebiarin diri lo terus menerus bertahan dengan yang ga pasti” Ucap Davin sambil berlalu meninggalkan Gina yang hanya mampu mematung menatap Davin yang berbalik dan perlahan menjauh, semakin jauh, hingga akhirnya hilang dari pandangannya.


*****


Thank you for reading this one! leave your comment below...
LOVE
xoxo

Saturday, June 2, 2012

new experience, another challenge, be grateful

"Students with Character and Intelligent in culture, creativity and technological innovation"



Students are part of intelligentsia. According to the definition, the intellectual itself are the human figure who has the principles and firms conviction to continue moving the society forward. And according to Ali Shariati, the intellectuals are like movie director. They are the director of those people that they observed and the various social types they must know well. So, the students should not just a smart person but also able to make the difference in their communities. The students should be good at putting themselves and remain in their establishment with a solid basic of knowledge. Not patronizing, but what they say must be full of knowledge and benefits. Essentially, the students must not only intelligent but also should have a character. And this paper will be proposed about the students with character and intelligent in culture, creativity and technological innovation.


As we know, culture is the way of life that develops and owned jointly by a group of people and passed down from generation to generation and the culture is also closely connected with community. But in this day, in this global era everything is turned into more distinct than before. Technology continues to evolve and creativity also increasing but it is unfortunate when culture began to be forgotten. Why I say the culture began to be forgotten? One of the reasons is because of technology. Well, actually technology itself often to be a conversation everywhere and everyone has different views about it. Some people argue that technology is something that was free and neutral but we still cannot separate technology with human life that in fact affected the values such as cultural, political, and social. So, why technology can make the culture began to be forgotten?

The culture in Indonesia right now has grown rapidly. And one of the reasons is because the people increase their creativity to produce or at least use the innovative technologies. There are so many things that we can get from technology, not just information or to communicate but also culture can be expanded to the entire region and throughout the world. So, everyone can know and enjoy every varieties of culture in this world. Technology is one result of the culture that created by the society. Although the technology is a product of culture that consist of some neutral elements, but when it becomes a single entity the neutralist lost.
Technology itself is a form that is created through communicative interactions for expressing ideas symbolically. And with that interaction, creativity of people increase and the idea to create the technology for human delivered. So that, the technology created as the tool of human being.

Glance, culture and technology are like two different things. Culture with the historical background and beliefs, while the technology is more based on trend. But in fact, between technology and culture, there is an inseparable relationship. The technology is a form of culture and the culture in the use of technology also has an important role. Ivan Illich in Y.B. Mangunwijaya describes how the human controlled device ended up by determining the human self-image. The technology also can change the culture. Technology can bring new culture that is considered more modern which at least will affect the culture that has existed on a person or a society. So, as the students with the character and intelligent we should be able to filter what kind of culture that we should take or not because after all, the students still have responsibilities for themselves, for others, and also for the nation.

And creativity? Creativity is one of the important things that should be owned by students. And it may make the students themselves to create technology that will ultimately make their own culture a little forgotten. However, now we live in globalization era, with rapid technological advance, any information can be entered and consumed by the public which resulted in a shift of cultural values (especially for the eastern).
Actually, era of the globalization can be avoided. Globalization is not only affected the culture but also others aspects in this life such as ideological, economic, politic, socio cultural, and others. Although we can get a lot from other people by using technology, we certainly cannot ignore our culture. We, as the students should be able to filter all incoming culture. We can certainly examine what is good and not and what we can accept and reject. Maybe we can imitate their way of thinking which sometime more advanced and open, their work ethic, disciplines, and also the other good things from them.

But what we could see today is different. Many students and others almost forget about their culture. They began to be contaminated with the western culture which is considered as a reference of fashion, life style, and others that spread quickly through the technology which eventually will spread to other problems such as social inequality, also the emergence of individualism. Internet as the technology, a media with unlimited information and can be accessed by anyone involved to be the cause of globalization in which the internet has become a daily intake of people in this age.

Drs. Nyoman Wijaya, M.Hum in her article entitled “Mensinergikan Budaya dan Teknologi” said, “Japan, India, and America has been able to empower the appropriate culture and the synergy culture of technology. They have long cultural export to other countries. In fact, in terms of substance, Indonesia has a cultural value which is very rich. But because it is not mated with technology, then we are only able to place culture as an object.”

Globalization of course would bring the influence of society either positive or negative. We should be ready to filter out any incoming foreign culture. And as the student with the character and intelligence, in culture we should still keep what we have and don’t deviated from our own culture but we still do increasing our creativity to produce another innovative technological that may help us to take a chance in this globalization era.

- Gustinavira (2103321015) Extrension B`10


and cause of this paper, i should present this paper in front of the judges and my classmates but after that i got the 3rd rank in this Scientific Writing Competition :") felt so nervous but yeah, that's worth it. Alhamdulillah :D



3rd winner Scientific Writing Competition
English and Literature Department
Faculty of Languages and Arts
Friday, June 1st 2012

*thanks everyone who support me the most :)

Saturday, May 19, 2012

a never ending story

a never ending story sejujurnya adalah tulisan dari hati yang udah ada di file notebook akuk sejak akhir 2011. file ini bukannya terabaikan, tapi ini malah salah satu file yang sering banget aku plototin isinya dan dibaca berulang ulang. dan sekarang, aku udah asli give up banget buat nulis ini. disamping dengan batin yang tidak ingin goyah lagi, aku juga pengen sekalia ngelepas uneg-uneg aja. cerita ini sendiri adalah cerita yang sedikit banyak benar benar terjadi dan benar benar dialami. sesuatu yang benar benar mencabik perasaan namun terlalu indah untuk dilupakan begitu saja. masih terlalu banyak kenangan dibalik luka yang tertoreh ini. yang jelas, cerita benar benar ditulis pake hati atau lebih tepatnya tercurah dari hati.


A Never-Ending Story



“Tiara…!!!” seorang cowok dengan kaos belelnya berlari mengejar gadis dengan mini dress dan sneakers usangnya yang tampak melebarkan langkahnya diantara meja meja kafe yang sore itu cukup ramai. Gadis itu terburu-buru berjalan menjauh sambil terus berusaha untuk tidak menarik perhatian orang orang disekitarnya.

“Tiara, tunggu” cowok itu akhirnya berhasil meraih tangan gadis yang dikejarnya tadi tepat saat gadis itu keluar dari kafe di sudut ibukota itu. Mata gadis itu tampak berkaca kaca menahan tangisnya.

“Lo balik bareng gue, Ra” cowok itu menarik tangan gadis itu dan menuntunnya ke parkiran. Keduanya sama sama terdiam. Sama sama canggung harus berkata apa. Dan tidak ada yang memulai pembicaraan, bahkan sampai motor yang dikendarai cowok dengan kaos belelnya tadi meninggalkan kafe dan lenyap di persimpangan jalan.

Sementara itu disudut kafe tadi seorang cewek tampak duduk dengan kasar di sofa marun yang menghadap ke jendela kaca dengan pemandangan jalanan ibukota yang ramai. Keningnya tampak berkerut dan wajahnya tampak sangat tidak bersahabat.

“Lo harusnya bisa sedikit lebih tenang, Gin. Dan lo ga seharusnya gituin Tiara” seorang cowok tampak meneguk minuman kalengnya tepat saat gadis dengan wajah tidak bersahabat tadi duduk di sebelahnya.

“Apa? Jadi lo suruh gue tenang gitu saat cowok gue di goda cewek lain?” ucap gadis yang –ternyata- bernama Gina.

“Dia ga godain gue” kali ini seorang cowok dengan jaket baseball merah menyahut dengan nada yang ketus.

“Lantas itu apa namanya? Lenyeh lenyeh? Gue mulai curiga jangan jangan lo suka sama dia. Yakan, Tara? Jawab gue” Gina kembali menyahut. Kali ini dengan nada suara yang lebih tinggi.

“Stop Gina! Gue muak liat kelakuan lo. Selalu keras kepala. Gabisa apa lo berfikir sedikit lebih dewasa? Berhenti dendam sama Tiara karna dia ga ngelakuin apa apa ke elo” cowok yang dengan jaket baseball yang bernama Tara tadi mulai tersulut emosinya. Dia melepas topi yang dikenakannya dan menghempaskannya ke meja di hadapan mereka. Membuat beberapa gelas tergeser dan nyaris menumpahkan isinya.

“Hah, emang lo sama aja sama dia. Munafik” Gina masih saja melancarkan kata kata pedasnya pada Tara dan kali ini benar benar membuat Tara muak dan meninggalkan kafe itu denga cepat.

“Cewe gila lo!” beberapa teman Tara yang juga nongkrong disana ikut mencibir Gina yang masih bergumam gak jelas begitu melihat Tara pergi. Mereka satu persatu ikut pergi dan meninggalkan Gina dengan sebongkah cemburu yang terus menguasainya.



“Ayo mampir, Ndre” Tiara turun dari motor sport milik Andre sambil melepas helmnya. Gadis itu berdiri sambil tersenyum kearah Andre yang masih duduk diatas motornya.

“Orang rumah lo gaada?” tanya Andre sambil turun dari motornya juga dan melepas helmnya. Pandangannya tertuju pada rumah Tiara yang terkesan asri dan minimalis.

“Biasa, urusan duniawi. Yuk masuk” Tiara berseru kecil sambil berjalan menuju teras rumahnya diikuti Andre yang berjalan sambil menenteng helmnya dengan senyum yang mengambang mendengar jawaban ketus Tiara.

“Duduk, Ndre. Gue ambil minum dulu” ucap Tiara mempersilahkan Andre duduk di kursi jepara yang terletak di sudut teras disamping sebuah bunga anthurium yang berwarna merah.

“Iya iya. Sorry gue ngerepotin. Beneran haus sih gue emang” ucap Andre sambil tertawa kecil.
Tiara yang mendengar perkataan teman sahabatnya itu hanya bisa tersenyum kecil dan berlalu kedalam. Pikirannya masih melayang saat dia yang sedang nongkrong sendiri di sebuah kafe sambil berusaha mengerjakan tugas kampusnya yang akhirnya dikejutkan oleh kehadiran sahabatnya Tara dan beberapa orang temannya. Awalnya mereka memang bertukar cerita satu sama lain dan saling bercanda. Namun semua menjadi rusuh ketika Gina datang. Gina yang notabene adalah pacar Tara yang tidak pernah berhenti menyindir Tiara yang memang menaruh rasa pada Tara. Rasa yang lebih dari sekedar teman.

“Loh, non Tiara sudah pulang? Bibi kirain siapa tadi” Bi Anti yang sudah bekerja puluhan tahun dengan keluarga Tiara mengagetkan Tiara dari lamunannya.

“Ehehe iya Bi, baru aja nyampe” ucap Tiara sambil berjalan kearah lemari es dengan dua buah gelas di tangannya.

“Sama temennya ya non?” tanya Bi Anti lagi sambil mengeluarkan beberapa toples yang berisi biskuit coklat.
Tiara mengangguk sambil membawa dua gelas yang diisinya dengan jus apel dari lemari esnya keluar. Dan di belakangnya, bi Anti tampak mengekor sambil membawa dua toples yang berisi biskuit.

Tiara duduk disamping Andre setelah berterima kasih pada bi Anti dan mempersilahkan Andre untuk minum. Dan tanpa sadar, Tiara memperhatikan Andre yang menegak minumannya dengan cepat dan hanya menyisakan separuh dari isi gelasnya. Yang mau tidak mau membuat Tiara terkekeh geli.

“Haus banget ya, Ndre?” tanya Tiara disela tawanya yang membuat rambutnya yang terikat acak menjadi semakin beratakan karna tubuhnya bergoyang.

Andre yang keki mendengar ucapan Tiara hanya bisa nyengir sambil menggaruk keki tengkuknya dan mengangguk. Belum pernah sejujurnya Andre sedekat ini dengan Tiara. Pertama kali mereka bertemu bahkan sudah nyaris setahun yang lalu. Dan Tiara memang jarang bertemu dengan Tara. Tentu karna alasan yang cukup jelas yaitu, Gina.

“Sorry ya, gue jadi ngerepotin lo, Ndre” ucap Tiara merasa sedikit tidak enak hati dengan Andre. “Gue tau lo baru balik dari luar kota kan?” sambung Tiara lagi yang beberapa hari lalu sempat membaca tweet Andre soal study tour.

“Ga masalah lagi, Ra. Lo itu kan sahabatnya temen gue. Bahkan dua temen gue yang lain ternyata sahabat lo. Jadi santai aja” jawab Andre sambil mencomot sepotong biskuit dari dalam toples.

“Maksud lo Dinda sama Lulu?” kali ini Tiara bertanya sambil menaruh minat pada Andre. Bagaimanapun belakangan Andre dekat dengan Dinda. Sahabatnya dari SMP yang benar benar susah jatuh cinta. Dan tidak menutup kemungkinan buat Tiara untuk mengorek ngorek beberapa hal tentang Dinda dimata Andre.

Andre mengangguk “Kemaren gue jalan bareng Dinda sebelum gue study tour. Nah, kita berdua cerita cerita gitu. Dan gatau gimana sampe ke soal lo dan Tara gitu. As you know la, walaupun kita follow-followan di  twitter, tetep aja kita ketemu baru sekali dua kali. Dan itu udah lama banget” jelas Andre sambil kembali menyomot biskuit dan mengulumnya dalam waktu singkat.

“Hahaha iya. Gue. juga baru sadar kalo kita baru ketemu sekali dua kali. Parah banget. Bahkan gue ga pernah liat lo pada manggung” ucap Tiara sambil ikut mencomot biskuit coklat yang menjadi cemilan favoritnya.

“Lo aja yang parah ga pernah mau liat gue sama anak anak perform” jawab Andre sambil mengeluarka pad-nya.

“Kaya ga paham aja lo, Ndre” sahut Tiara cepat sambil melepas ikatan rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai. “Gina bakal terkam gue idup idup” sambung Tiara lagi.

“Cewek itu emang ga penting. Gue selalu heran kenapa Tara bisa bisanya jatuh cinta sama cewe kaya dia” Andre nyerocos sambil mengaktifkan messengernya. “Bukan gue bermaksud untuk ngatain dia jelek atau apa. Tapi, dia itu worthless banget. Gaada bagus bagusnya. Dia ga pernah bisa jaga attitude dia. Bener bener cewe memalukan” Andre kali ini tampak bicara serius tanpa memperdulikan pad-nya. Pandangannya tertuju pada Tiara yang entah sejak kapan mulai tertunduk.

“Lo gapapa, Ra?” tanya Andre saat menyadari Tiara mulai memainkan ujung bajunya gelisah. Tiara seperti seseorang yang kehilangan arah dan begitu teruka.

Tiara menggeleng lemah “Gapapa, Ndre. Gue biasa di giniin. 10 tahun gue sahabatan sama Tara, gue emang ga pernah bisa lepas dari bayang bayang Gina. Gue heran kenapa dia masih terus musuhin gue. Padahal gimanapun juga,dia itu dulu deket banget sama gue” kali ini suara Tiara benar benar terdengar lemah dan bergetar. Dan itu membuat Andre sadar bahwa Tiara benar benar terluka.

Andre meletakkan padnya yang baru saja dia pegang dan menoleh kearah Tiara. Anak anak rambut berjatuhan disekitar wajahnya. Bibir penuhnya digigit oleh dirinya sendiri. Pertanda kalau gadis itu benar benar risau. Dan wajahnya masih tertunduk menghadap tanah. Berusaha untuk menutupi semua kerisauannya. Dan entah kenapa pemandangan dihadapan Andre itu benar benar mmebuat darahnya berdesir. Tidak pernah sekalipun dia merasakan perasaan ini sebelumnya. Dan ini benar benar diluar kendalinya.

“Andre…” Tiara menengadah namun sekejap terdiam untuk beberapa saat menyadari bahwa Andre sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Mata mereka bertemu dan saling bertukar pandangan. Namun secepat kilat Andre memalingkan wajahnya dan menatap pad dihadapannya.

“Kenapa, Ra?” tanya Andre saat dia mulai bisa mengatur detak jantungnya yang entah kenapa menjadi berdebar dua bahkan tiga kali lebih cepat.

“Gue gatau kenapa gue pengen nanya ini ke elo. Dan gue harap lo berniat cerita ke gue” ucap Tiara lirih.
Andre terdiam dan sadar bahwa Tiara pasti sedang bergumul dengan perasaannya sendiri. Sesuatu yang pasti sangat memilukan. Menyadari bahwa Gina yang seharusnya sedikit bisa mengerti dirinya tidak bisa menahan segala ucapannya dan malah berbalik menyerangnya. Bahkan di depan Tara pacar Gina yang juga sahabat Tiara. Masih jelas diingatan Andre bagaimana Tiara yang datang dengan seorang temannya berjalan dengan dada terbusung dan dagu terangkat kearah meja mereka. Lalu dengan lantangnya berseru dan mengatakan betapa dia merindukan sosok Tiara yang sudah lama tidak bertemu dengannya dan tentu saja dengan embel embel perebut pacar orang.

Masih jelas juga di ingatan Andre bagaimana terkejutnya Tiara saat mendapati sosok Gina di hadapannya. Sedikit banyak Andre memang tahu tentang masalah antara Gina juga Tiara. Masalah klise tentang persahabatan dan cinta yang seharusnya tidak perlu di lebih-lebihkan. Andre juga masih bisa melihat bagaimana Tiara mencoba menahan air matanya dan tetap membela dirinya walau dengan suara yang nyaris bergetar. Juga saat Tiara memutuskan untuk pergi dan nyaris menjatuhkan macbooknya. Semua masih bisa terputar jelas dalam pikiran Andre. Kejadian yang memang benar benar tidak seharusnya terjadi pada diri seorang Tiara yang menyayangi sahabatnya dengan begitu tulus.

“Lo mau tau apa dari gue? Gue bakal jawab sebisa gue” jawab Andre pelan seolah ikut dalam kegelisahan yang dirasakan Tiara. Dan Andre juga merasa perlu untuk membantu Tiara. Karna bagaimana pun, dia sudah masuk kedalam dunia Tiara. Dengan Tara sebagai sahabatnya dan Dinda yang beberapa waktu ini selalu dengannya. Dan Tara maupun Dinda adalah sahabat terbaik Tiara.

“Apa bener Tara sama Gina udah tunangan?” kata kata itu meluncur begitu saja dari bibir Tiara. Pertanyaan yang selama ini sudah berapa kali coba dia telan sendiri. Kenyataan pahit yang cepat atau lambat akan dia tanyakan pada Tara.

“Kenapa lo harus tanya ke gue lagi kalo lo udah tau jawabannya?” Andre balik bertanya pada Tiara yang tampak mengitari pinggiran gelasnya dengan telunjuknya.

“Gue…gue cuma pengen make sure aja. Setidaknya, gue langsung tau dari lo yang selalu ketemu dia” jawab Tiara masih tetap dengan telunjuknya yang menari mengitari gelas.

Andre terdiam lalu detik berikutnya dia mengangguk dan mengalirlah cerita tentang Tara dari bibirnya. Tidak jarang Andre mendapati Tiara menganga dan menggeleng lemah berusaha untuk tidak mempercayai setiap fakta yang terucap lewat bibir Andre. Namun tidak pernah sekalipun Tiara menyela perkataa Andre. Gadis itu terus mendengarkan dan mendengarkan. Walaupun Andre tau itu bukanlah hal mudah dia terima. Andre memulai saat Gina yang belakangan acap kali datang kerumah Tara dan menghabiskan waktu disana hingga akhirnya berbuntut hubungan yang lebih dari sekedar pacaran dan sampailah ke cerita bahwa akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertunangan dengan tujuan hidup yang jelas mereka akan berdua di akhir nanti.

Andre menghela nafasnya berat. Benar benar berat rasanya menceritakan rahasia sahabatnya pada gadis yang jelas jelas dia tau akan sangat terluka mendengar setiap kenyataan yang ada. Andre sadar kalau tidak ada dirinya saat ini, Tiara pasti akan menangis.

“Gue yakin dia sayang ke elo, Ra. Dia Cuma gabisa bersikap di depan lo. Lo ngerti maksud gue?” tanya Andre memecah keheningan diantara mereka.

Tiara menggeleng “Gue bahkan ga yakin dia sayang sama gue. Oke dia emang selalu bilang ke gue dia sayang sama gue. Sayang yang masih tetep sama kaya 10 tahun yang lalu. Tapi dia ga pernah berlaku kaya dia sayang ke gue. Dia ga pernah buat gue ngerasa kaya sahabatnya, Ndre” Tiara mulai mengeluarkan semua uneg-unegnya pada Andre yang memang akan mendengarkannya.

“Dia ga pernah cerita apapun ke gue. Dia selalu datang ke gue kalo punya masalah sama orang lain atau tugas kuliahnya. Dia ga pernah jujur ke gue, Ndre. Dan lo bisa liat sendiri tadi kan? Dia bahkan ga berkutik saat gue di kata katain Gina. Dan dia selalu gitu” suara Tiara semakin bergetar. Tangannya tampak terkepal sambil menggengam pinggiran kursi jeparanya. Sekuat tenaga gadis itu menahan tangisnya agar tidak pecah. Bagaimanapun Tiara sudah terlalu lelah untuk menangis.

“Gina pernah bermasalah sama temen gue, Ndre. Dan dia sampe ngeDM temen gue di twitter. Dan sampailah masalah itu ke Tara. Dan lo tau apa? Tara malah nyalahin temen gue. Gimana gue ga kesel sama dia, Ndre?” Tiara berucap dengan nada yang benar benar tidak bisa disembunyikan lagi kegundahannya. Dia benar benar tidak mengerti kemana lagi dia harus mengadu.

Andre mendekatkan kursinya lalu menarik Tiara dalam pelukannya. Sekuat tenaga dia meyangkal dirinya agar tidak bertindak yang mungkin akan membuat keadaan makin kacau atau bahkan timbul kesalah pahaman. Tapi dia benar benar tidak mengerti kenapa dia seperti reflex berjalan dan menarik gadis itu dalam pelukannya. Mata Tiara yang berkaca kaca, suaranya yang semakin lirih dan bergetar, juga pegangan tangannya yang mengendur dari pinggiran kursi, semua benar benar membuat Andre tidak bisa menahan diri untuk tidak menenangkan gadis itu.

“Nangis sepuas lo, Ra” Andre mengusap pucuk kepala Tiara lalu berpindah ke punggung gadis itu. Andre benar benar tidak bisa menahan perasaannya yang seperti bisa merasakan apa yang Tiara rasakan.

“Gue cuma pengen dia ngerasa gue sahabatnya. Gue ga butuh semua bbm dia yang bilang sayang gue atau apapun itu. Gue pengen dia ngerasa nyaman ke gue tanpa perlu ada yang dia tutupin dari gue. Gue bakal terima dia apa adanya. Karna sekali dia sahabat gue, dia bakal terus jadi sahabat gue” kali ini tangis Tiara pecah dalam pelukan Andre. Walaupun awalnya Tiara enggan untuk menunjukkan kegelisahannya pada Andre, namun benteng itu seketika roboh saat Andre menarik gadis itu kedalam pelukannya dan memberikannya sebuah tumpuan ditengah kebimbangannya.

“Iya. Gue ngerti apa yang lo rasain, Ra. Gue paham gimana perasaan lo. Tapi, kalo boleh gue jujur sama lo, gue pengen lo tau dia gitu ke elo sebenernya karna dia ngerasa serba salah. Dia bingung gimana harus bersikap ke elo juga Gina. Elo itu terlalu dia sayang. Dan Gina, cewek keras kepala itu akan selalu gangguin elo kalo lo dibelain Tara.” Andre melepas pelukannya dan mencoba meminta pengertian ke Tiara.

“Gue ngomong gini bukan sebagai sahabat Tara, tapi lebih karna gue care ke elo. Ini bukan maksud gue buat ngebelain Tara. Tapi, emang begitulah Tara yang sebenernya. Dia terlalu takut Gina akan semakin nyakitin lo. Makanya dia ga mencoba buat ngebelain lo di depan Gina. Padahal kalo boleh jujur, dia bener bener marah sama dirinya sendiri” sambung Andre lagi sambil menatap mata Tiara dalam sambil mencoba untuk meyakinkan Tiara.

Tiara yang menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Andre benar benar merasakan hal yang tidak bisa dia deskripsikan. Perasaannya benar benar campur aduk mendengar perkataan Andre. Ada rasa sesak yang menyesaki perasaannya, juga ada rasa marah karna Tara benar benar tidak bisa menentukan sikapnya. Namun dilain sisi, seterluka apapun Tiara, gadis itu benar benar tidak bisa marah dan membenci sosok Tara yang sejak awal dia ketahui sebagai first love nya.

“Lo percaya sama gue kan, Ra?” tanya Andre ditengah keheningan yang tercipta diantara mereka.
Tiara menengadah dan menatap kearah Andre. Tersadar bahwa Andre yang memiliki campuran darah barat dari kakeknya ini memiliki mata kecoklatan yang benar benar kontras dengan kulitnya yang sedikit menghitam karna dijilat matahari.

“Gue percaya lo kok, Ndre” jawb Tiara lemah. Dia benar benar masih tidak percaya bahwa sebenarnya Tara ada di posisi seterjepit itu. Dan yang bisa Tiara lakukan sekarang hanyalah menerima kenyataan dan juga berusaha untuk tenang.

“Gue Cuma ga pernah berfikir kalau Tara ada di posisi sedemikian sulitnya” sambung Tiara lagi sambil mengusap sisa sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“Gue tau ni sulit dipercaya. Tapi ya inilah kenyataannya, Ra. Dia sayang lo, dan dia gamau Gina selalu nyusahin lo” jawab Andre lagi sambil kembali berusaha menenangkanTiara. Sementara Tiara hanya bisa tersenyum kecil. Senyuman yang dihadiahkannya khusus untuk Andre sahabat Tara yang terkenal playboy. Dan berhasil membuat jantung Andre bekerja lebih cepat dan menjalari rasa hangat ketubuhnya.

“Lo bisa cerita apapun ke gue, Ra. Kapanpun” seru Andre tepat saat senyuman yang mengambang di wajah Tiara nyaris hilang.

“Thanks ya, Ndre. Gue gatau gimana caranya berterima kasih ke elo” sahut Tiara kembali menyunggingkan senyumnya.


-END-

*sebuah cerita singkat yang terlalu pahit untuk diteruskan



Wednesday, March 14, 2012

born to be somebody


there's a dream in my soul,
a fire that's deep inside me.
there's a me no one knows,
waiting to be set free.

i'm gonna see that day,
i can feel it, 
i can taste it,
change is coming my way.

i was born to be somebody,
ain't nothing that's ever gonna stop me.
i'll light up the sky like lightning,
i'm gonna rise above,
show 'em what i'm made of.
i was born to be somebody,
i was born to be,
and this world will belong to me.

ini adalah penggalan lagu Born to be somebody-nya Justin Bieber. pertama kali denger lagu ini, asli perasaan langsung campur aduk. waktu pertama dengernya, itu adalah masa masa kejenuhan aku sama keputusan sepihak yang aku dapetin. aku denger ini saat aku bener bener hopeless dan ngerasa mimpi aku itu gaakan bisa terwujud.

sedikit flashback, menjadi mahasiswi di jurusan pendidikan bahasa inggris bukanlah hal yang benar benar aku inginkan. impian terbesarku dalam hal ini adalah menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional ataupun komunikasi. tapi lagi lagi doa orangtua dan takdir tetap menentukan segalanya. SNMPTN dan bahkan SLMPTN (seleksi lokal) keduanya meluluskanku di universitas yang sama. Universitas Negeri Medan dengan jurusan yang berbeda. hasil itulah yang membuatku pernah berada di titik terendah dan menjadi begitu hopeless. bayangan betapa keren kece dan asiknya menjadi mahasiswa HI hilang seketika. bahkan saat orangtuaku tidak mengizinkanku mencoba tes untuk kuliah di luar kota dengan alasan yang terkadang sulit untuk kuterima.

dan saat aku marah akan semua, saat itulah aku kembali pada kebiasaan lama. menjadi anak yang sedikit membangkang, malas ke kampus, dan lain lain. dan saat itu pula aku menghabiskan banyak waktu dengan menulis. menulis yang merupakan hobi lama yang hampir aku tinggalkan.

di pertengahan tahun 2010, saat abg abg lagi crazy over Justin Bieber dan terkena Bieber Fever, aku mulai anteng dengan sosok fenomenal itu. kenapa? karna aku udah suka sama Justin di akhir 2009. dan di saat maraknya twitter jugalah aku tau istilah fanbase. berakar dari kecintaanku pada Justinlah, akhirnya aku memutuskan membuat sebuah akun fanbase dengan nama @belieberbeebs yang akhirnya nyaris memperoleh angka 5ribu followers di tahun itu juga.  dan sangat disayangkan, seseorang usil yang tidak bertanggung jawab mendeactive akun itu. 

di akun itu jugalah mimpi aku dimulai. 
#darellstory adalah cerita pertama yang aku buat. sebuah fan fiction manis yang menceritakan tentang seorang Beliebers yang berkesempatan mengenal idolanya lebih jauh hingga membawa mereka masuk ke duni percintaan ini sedikit mengundang kontroversi di akhir cerita. pembaca benar benar tidak bisa menerima akhir cerita dimana si gadis bernama Darell itu ternyata hanyalah sebuah khayalan. dan karna ternyata, keseluruhan kisah manis itu hanyalah mimpi seorang anak penyuka Justin bernama Ipeh.
lalu, karna banyaknya follwers yang memintaku menulis fan fiction lagi, aku pun memulai sebuah cerita baru lagi dengan judul #lorystory ya, aku memang not good untuk nemuin suatu judul cerita. dan itu salah satu alasan kenapa aku menggunakan nama karakter utamanya sebagai judul. di cerita kali ini, pembaca diajak menjadi jauh lebih sentimentil. aku bisa berbicara seperti ini karna banyak tweet2 pembaca yang mengatakan bahwa tidak jarang mereka menangis saat membacanya. dan mau tidak mau, hal itu benar benar memberi kepuasaan tersendiri buatku. setelah #lorystory yang menyayat hati, aku terus nulis dengan tulisan baru -tetap fan fiction- berjudul #mitchiestory yang lagi lagi menggunakan nama karakter utama sebagai judul. di cerita ini, aku mengambil tema yang sedikit klasik tapi dengan sesuatu yang berbeda -gayanya- yang jelas ini adalah cerita tentang cewek yang datang dari masa lalu Justin dan muncul sebagai pribadi baru karna sesuatu hal. dan yang terakhir, aku membuat cerita dengan judul #laurastory sebuah cerita -fanfiction- tentang gadis rebel. tapi sangat disayangkan, di pertengahan pengerjaan story inilah akun fanbaseku di hack. dan jadilah semua hilang tidak tentu arah.

dan tidak patah arang -bahasanya- aku ngebuat satu fanbase lagi dengan nama yang nyaris mirip yaitu @belieberbeebsz bukan hal yang sulit untuk mendapatkan followers mengingat aku cukup dikenal di kalangan beliebers -tanpa bermaksud sombong-. namun lagi lagi akunku itu terkena imbasan hacker atau mungkin orang yang tidak senang denganku. dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi membuat fanbase.

mention mention tetap berdatangan ke akun personalku ( @iravyraa ) rata rata mereka memintaku untuk menulis (lagi). dan berhubung aku ada di akun personal, jadilah aku memutuskan untuk banting stir menulis fiksi story tanpa ada embel embel Justin Bieber di dalamnya. alasan awalnya adalah aku tidak mau disangka labil. karna mengingat umur yang nyaris 20, tidak jarang orang mengolok-olokku karna adore Justin Bieber so bad. padahal menurutku tidak pernah ada yang salah. selama kita masih bisa mengambil sesuatu yang positif dari sang idola, tidak akan ada yang melenceng.

oke, balik ke awal. jadi di akun personalku, aku memulai sebuah cerita baru berjudul #AnotherStory. sebuah cerita yang mau tidak mau mengubah sedikit hidupku. karna menulis cerita ini, aku menyadari banyak hal. dalam pengerjaan cerita ini juga aku sadar bahwa impian masa kecilku untuk menjadi seorang penulis itu semakin dekat. beberapa akun self publishing menawarkan penerbitan, lalu beberapa pembacaku meminta agar karyaku di terbitkan. dan itu membuatku yakin, kalau aku tidak useless di dunia ini. 

di cerita #AnotherStory ini aku bercerita tentang seorang gadis bernama Rey yang memiliki kakak kembar dan orangtua yang merahasiakan rahasia besar darinya. sebuah cerita yang menguras perasaan -menurut pembaca- yang berakhir sedih. dan sejak saat itu juga aku mendapat julukan writer spesialisasi sad story. bukan hal yang terlalu buruk, yang terpenting aku -alhamdulillah- berhasil membawa setiap pembacaku masuk kedalam ceritaku sampai menangis. dan hal itu bisa dilihat dari beberapa tweet dibawah:


nabilAsti NabilaAsti 
#anotherstory story ke 2 setelah #lorystory yg sukses bikin ku nangis sendirian di kamar sampe di ketawain adekku u.u

vanyaa69 weird dreamer ​ 
#anotherstory nya keren abis!!!! part2 yang terakhir2 itu, hampir semua scene aku nangis bombai. RELLY AMAZING JOB, KAK! :)

FarhaAnnisa Farha Annisa 
#anotherstory beda dari story yang lainnya. lebih banyak cerita tentang kisah kakak-adik. emosional banget. really awesome!!

ditaalmanda Dita Almanda 
#anotherstory itu KEREN! Simple ga ribet tp menyentuh. Kita bisa ngerasain ceritanya & ceritanya menyentuh banget. Thx for make it ka ira!☺

ipeh_14 Latifah 
Baca #anotherstory itu bkin galau,sedih,seneng,melted,nangis sampe sesegukan&masih banyak lagi, pokoknya ceritanya keren banget the best deh

listyeay Listya\m/ 
#anotherstory Bisa bikin nangis di depan komputer._.



tweet tweet diatas adalah beberapa dari tweets yang aku terima. ada rasa terharu, bangga, juga rasa yang gabisa di deskripsiin saat aku minta semua nulisin kesan mereka setelah baca ceritaku. dan sekarang, aku kembali menulis sebuah fanfiction dengan judul #LOVER.
dan fan ficition ini juga yang mengundang decak kekaguman dari pihak yang akan mengangkat ceritaku kedalam e-book seperti yang aku ceritakan di postingan pendekku sebelumnya.

dan intinya, melalui ungkapan perasaan yang ga jelas ini, aku mau nyampein apapun kamu, gimanapun kamu, kita terlahir kedunia ini dengan tujuan. dan tidak ada satu dari kita pun yang tidak berguna di dunia ini. 






Feel it,
Believe it,
Dream it,
Be it!

this dream is too good

Tumblr_m0p0i5vgfk1r8bd6fo1_400_large 

"you know, i feel like i'm in the story"
"wow..."
"kalau gini ceritanya, kamu bisa jadi asisten director, vira"
"kamu tau? saya jadi penuh ide"
"kita harus ngerjain ini secepatnya"

DAMN!! it was reaaaaaal... 
13 Maret 2012 tepat di Royale Condominium, perasaan udah campur aduk banget. semua berawal dari sehari sebelumnya papa ngabarin bahwa orang orang yang kerja sama mau ngebuatin e-book aku minta ketemuan dan mau ngeliat karya-karya aku. pastinya jadi gugup ga nentu karna i feel not comfort when someone that i know read my stories in front of me pula. kebayang ga sih gimana deg-deg-annya nungguin respon orang yang baca. terlebih ini masalah mimpi yang bakal kewujud atau engga. 

jadilah aku yang awalnya bakal nunjukin cerita fiksi aku malah ngeleyeng jadi nunjukin fan-fiction yang lagi aku kerjain. as you know, i adore Justin Bieber so bad. jadilah aku nunjukin fan-fiction dengan judul #LOVER yang lagi aku kerjain di akun twitter aku. sempat ada rasa takut, gugup, was was karna takut mereka malah anggap aku weird dan obsess sama Bieber. but you know what? here it is...




#Lover part 16 ( http://www.twitlonger.com/show/gavp0n ) adalah part yang aku tunjukin sama mereka. gatau kenapa, yang jelas part yang baru beberapa hari aku post ini cukup ngedapetin respon positif dari temen temen yang baca cerita ini. 

"Ryan berjalan kearah Darell yang duduk di sudut Coffee shop kawasan Wilshire Boulevard dengan nampan berisi pesanannya. Secangkir Cappucino hangat untuk Darell dan dark coffee untuk dirinya sendiri. Ryan bisa melihat Darell memainkan jarijarinya di smartphonenya sambil sesekali tersenyum.
“You both really can’t be separate?” Ryan meletakkan minuman mereka diatas meja sambil menghempaskan tubuhnya di sofa empuk di hadapan Darell.
Darell tertawa mengangkat wajahnya “I totally can’t handle this feeling” ucapnya lalu kembali berkutat dengan smartphonenya.
Ryan tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya lemah. Bagaimana tidak, baru beberapa jam yang lalu dia seperti menadapati sosok lain dari Darell. Darell yang terlihat begitu putus asa dan dingin. Amun sekarang, dihadapannya duduk gadis yang sama dengan gadis yang dia temuinya tadi, namun dengan mood yang jauh lebih baik."

i've no idea to tell you all in detail. ini bener bener sesuatu yang sulit diungkapin dengan kata kata. semua kaya mimpi. awalnya, aku udah pernah ketemu sama pihak pihak yang terkait dan selama satu bulan, seperti gaada kejelasan kelanjutannya. tapi kemarin, semuanya bermulai. mereka senang dengan tulisan tulisanku, dan bahkan sudah memikirkan langkah selajutnya dan akan jadi apa kedepannya. semua benar benar ngebuat aku ga bisa berhenti bersyukur.